BABELUPDATE.COM, BANGKA – Muhammad Farhan, selaku pengurus rombongan santri, melaporkan kejadian terkait penerbangan maskapai Super Air Jet dengan rute Pangkalpinang menuju Jakarta Soekarno-Hatta. Rombongan yang terdiri dari 72 orang santri mengalami kendala saat hendak naik pesawat, dimana 29 orang di antaranya ditahan di gate dan tidak dapat ikut berangkat.
Menurut Farhan, kronologis kejadian dimulai ketika rombongan berada di ruang gate. Sebanyak 43 orang santri berhasil masuk pesawat dan telah sampai di Jakarta, namun sisanya ditahan dengan alasan keterlambatan. Padahal, boarding pass baru diberikan kepada mereka saat itu juga.
“Kita berusaha berkomunikasi dengan petugas yang menjaga gate, yang menyuruh berkonsultasi dengan atasan atau melapor ke maskapai. Namun ketika menghubungi pihak Super Air Jet, tidak mendapatkan respon sama sekali,” ujarnya.
Kejadian ini terjadi sejak jam 8 pagi hingga saat pelaporan dilakukan. Pihak rombongan akhirnya memutuskan untuk membeli tiket baru agar 29 santri tersebut dapat berangkat keesokan harinya dan memutuskan untuk melaporkan peristiwa ini ke Kepolisian Daerah (Kapolda).
Perkiraan kerugian yang ditanggung tidak hanya dari pembelian tiket baru senilai sekitar Rp70 juta, tetapi juga mencakup biaya transportasi wali santri dari berbagai daerah, biaya makanan, dan kebutuhan lainnya dengan total sekitar Rp100 juta.
Farhan menyampaikan bahwa sebelumnya pihaknya tidak pernah mengalami kendala serupa dengan Super Air Jet maupun maskapai lain seperti Lion Air.
“Biasanya kalau sudah masuk ruang gate pasti diperbolehkan masuk pesawat, tidak pernah tiba-tiba ditahan seperti ini,” katanya.
Santri yang masih berada di Pangkalpinang merasa kecewa karena sudah terlambat untuk masuk sekolah. Awalnya, pendaftaran masuk sekolah ditetapkan pada tanggal 30 Maret untuk putri dan 31 Maret untuk putra, sehingga pihak pondok pesantren telah memberikan dispensasi terkait jadwal kedatangan.
“Harapannya dari pelaporan ini adalah mendapatkan hasil yang terbaik, baik berupa ganti rugi maupun agar kejadian serupa tidak terulang lagi. Kita merasa dirugikan, terutama mengingat kondisi ekonomi masyarakat di Bangka yang perlu diperhatikan,” pungkas Farhan.(Tim)













